Berita Wom

Laba Bersih WOM Finance Meningkat 49%

Jakarta, 28 Juli 2017 - Dampak menurunnya daya beli masyarakat masih terasa pada enam bulan pertama tahun ini. Dampak ini dirasakan oleh hampir semua sektor usaha. Untuk sektor sepeda motor sendiri trend pelemahan penjualan sendiri telah dirasakan sejak pertengahan tahun 2014. Tiga tahun berselang, trend ini belum menampakan tanda-tanda rebound, hal ini otomatis membuat banyak ATPM terus merevisi target penjualannya.

"Kami masih berupaya untuk terus meningkatkan kualitas portfolio agar keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas asset terus terpelihara. Hasilnya hingga bulan Juni 2017, penyaluran pembiayaan baru kami tercatat sejumlah Rp 2,8 triliun atau setara dengan 206.600 unit kontrak baru dengan piutang pembiayaan yang dikelola tercatat sebesar Rp 7,4 triliun. Sementara rasio kredit bermasalah (NPF) berada pada level 2.8%, membaik 70 bp dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 3.5%," kata Djaja Suryanto Sutandar selaku Presiden Direktur WOM Finance.

Berbicara mengenai kinerja pembiayaan Perusahaan, Djaja menjelaskan, dengan terjadinya perlambatan pada penjualan motor baru, maka Perusahaan menggenjot pembiayaan multiguna (MotorKu dan MobilKu). Sekitar 29% penyaluran pembiayaan baru yang dilakukan Perusahaan selama enam bulan pertama berasal dari pembiayaan multiguna, atau setara dengan Rp 1,2 triliun. "Pertumbuhan terbesar terjadi pada produk kredit multiguna MobilKu yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 211% dari Rp 113,7 miliar pada enam bulan pertama tahun 2016 menjadi Rp 353 miliar pada periode yang sama tahun 2017 ini ", jelasnya.

Djaja juga menambahkan bahwa selama enam bulan pertama tahun 2017 ini, WOM Finance mencatatkan laba bersih sebesar Rp 57 miliar meningkat 49% bila dibandingkan dengan laba bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 38 miliar. Secara umum peningkatan ini terjadi seiring dengan meningkatnya pembiayaan multiguna (MotorKu dan MobilKu), perbaikan kualitas portfolio, efisiensi biaya dan inisiatif-inisiatif baru yang dilakukan oleh perusahaan baik perbaikan strategi collection, diversifikasi sumber pendanaan dan penggunaan aplikasi mobile.

"Kami terus mengupayakan beberapa alternatif sumber pendanaan sehingga dapat memberikan fleksibilitas dalam memperoleh pendanaan yang mencukupi dengan biaya pendanaan yang paling optimal. Strategi ini memampukan kami untuk selalu dapat memenuhi kebutuhan pendanaan guna menjalankan aktivitas pembiayaan.Hingga akhir bulan Juni 2017, pinjaman sendiri kami berjumlah Rp 2,8 triliun, naik sebesar 39% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sejumlah Rp 2 trilun. Komposisi pendanaan melalui pinjaman perbankan dan penerbitan obligasi adalah 54% berbanding 46%. Sementara itu, gearing ratio terjaga pada tingkat 5,5 kali. Kami juga berencana untuk menerbitkan emisi Obigasi Berkelanjutan WOM Finance II Tahap II pada kuartal ketiga 2017 dengan target dana Rp 600 miliar ", papar Zacharia Susantadiredja selaku Direktur Keuangan Perusahaan.

Seiring dengan membaiknya beberapa indikator ekonomi nasional seperti penguatan indeks kepercayaan konsumen dan pemberian outlook positif untuk Indonesia dari Fitch Rating, WOM Finance menatap Semester II tahun 2017 dengan penuh optimisme. Namun demikian WOM Finance tetap mengambil langkah berhati-hati dan fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan pasar dan melanjutkan strategi pertumbuhan asset yang berhati-hati. Sambil melakukan investasi dari sisi IT dan infrastruktur lainnya untuk mengakomodir kegiatan usaha kedepannya. Perusahaan juga akan fokus dalam meningkatkan efisiensi operasional melalui pengelolaan pertumbuhan biaya operasional yang efektif, dan mengelola kapasitas yang ada serta meningkatkan efisiensi secara keseluruhan.


Ditulis oleh: Admin WOM Tanggal: 2017-07-31 13:00:48